Analisa Saham Japfa dan Ultrajaya untuk Investasi Jangka Panjang

Di dunia bursa efek khususnya saham, banyak macam-macam cara analisa yang dijelaskan namun saya hanya memilih cara yang paling mudah untuk bisa benar-benar paham bagaimana memilih saham.

Kurang lebih ada 6 saham perusahaan yang saya pilih, namun pada titik saya menulis ini baru benar-benar menemukan 2 saham yang menurut perhatian saya bagus dalam jangka panjang.

JAPFA dan Ultrajaya

Beberapa saham yang pernah saya koleksi antara lain ada: Sido Muncul, Indofood, Adaro, Mayora dan Garuda Food

Rata-rata perusahaan tersebut punya Fundamental yang bagus sehingga mudah diartikan saham tersebut punya prospek yang baik

Namun tidak sesederhana itu cara kerja di bursa saham, belum tentu fundamental bagus pasti hasilnya bagus.

Tujuan di bursa saham selain sebagai investasi, tujuan utamanya untuk mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek maupun jangka panjang, mereka para trader akan memainkan peran naik turunnya harga saham.

Kalau saya ga punya mental yang kuat sudah pasti akan kebingungan saat saham yang saya koleksi turun drastis seperti yang terjadi bulan lalu. Indofood terjun hingga – 10% dan JApfa yang terus mengalami penurunan hingga lebih dari – 50%.

Karena saya punya dasar yang kuat dalam memilih saham, jadi tetap tenang dengan keyakinan saya di bursa antara lain adalah:

1. Fundamental Perusahaan

Saya harus paham apa produk perusahaan tersebut dan bagaimana prospeknya. Namun ada ratusan perusahaan dengan fundamental yang bagus.

Secara sederhana fundamental itu adalah laba perushaan yang terus meningkat, produk yang pasti akan selalu laku dan dibutuhkan. Misalnya Unilever dan Indofood yang jelas produknya akan selalu dibutuhkan.

Sedangkan untuk saham  sektor pertambangan, saya masih ragu karena belum begitu tahu apa prospek perushaan tersebut, baik dari segi produk industri, kompetitor, dan sumber daya alam.

Selain itu juga, fundamental yang bagus bisa dinilai dari tidak adanya isu hutang besar perusahaan atau terkait perijinan usaha yang gak jelas.

Produk perusahaan tersebut sudah kita tahu, kita pakai dan kita makan, jadi tentu sangat jelas bukan?

Contoh: Saham Telkomsel (TLKM)

Ini salah satu saham favorit di bursa efek, dari segi fundamental dan grafik teknikal terlihat positif semua, namun saya ragu untuk memilihnya ada beberapa alasan antara lain:

TLKM mulai naik drastis di tahun 2015 dimana ini tahun trend nya penguna internet berkembang pesat, sehingga saya menilai TLKM sudah sulit untuk naik lagi karena sudah terlalu cepat kenaikan harga sahamnya (akibat tren)

Internet gratis semakin mudah ditemukan dimana-mana, dan kompetisi internet provider semakin tinggi, meskipun Telkomsel tetap menguasai pengguna kartu, namun penggunaan telepon dan sms akan terus menurun karena ada komunikasi gratis melalui whatsapp

Kebijakan regristrasi menggunakan kartu keluarga akan mengurangi pembelian kartu perdana baru, sehingga lama-lama sektor produksi kartu perdana pasti akan mati.

Satu-satunya layanan unggulan Telkomsel adalah Speedy dan Tv kabel, namun kompetisinya juga sangat sengit.

2. Harga Saham

Saya pribadi belum memilih saham dengan harga diatas 10.000 per lembar atau 1 juta per lot, dengan mengamati grafik persentase return dan PER ( price per eraning share)

Tujuan semua investor saham pasti menginginkan harga sahamnya naik. melihat kenaikan selain dari dari grafik, yang terpenting persentasenya

Contoh

Saham Unilever pada Mei 2014 seharga 30.000 dan pada Mei 2019 seharga 45.000 naik 50%

Sedangkan Japfa Pada Februari 2015 seharga 1400 dan di Februari menjadi 2800 artinya meningkat 100%

Namun sayangnya pemegang saham Japfa KKR (Kohlberg Kravis Roberts) menjual sahamnya besar besaran sehingga harga menjadi jatuh saat ini Mei 2019 menjadi 1500.

Bukan masalah apa-apa dengan Japfa, selama yang saya baca KKR melakukan aksi Taking Profit, dimana mereka sudah untung lebih dari 100% sehingga segera dijual agar mendapatkan keuntunga. Ini adalah hal yang sangat wajar karena keuntungan terbesar di bursa saham adalah jual belinya, bukan dari deviden perusahaan.

3. Price To Earnings Ratio (PER)

Semakin kecil semakin bagus, semakin besar semakin kurang bagus

PER = Harga saham saat ini / Earnings Per Share (EPS)

EPS = Keuntungan Perusahaan per lembar saham.

Namun PER hanya salah satu bagian saja dari keputusan memilih saham, memilih PER besar belum tentu jelek dan memilih yang kecil belum tentu bagus.

Saya mengikuti batas PER IHSG ( Indeks Harga Saham Gabungan) yang saat ini berkisar 22 an, artinya jika masih dibawah itu nilai PER nya bagus.

Meskipun begitu saya juga gabungkan lagi dengan Fundamental, misalnya saham Waskita (WSKT) yang masih rendah sekitar 8 namun saya masih ragu-ragu apakah pembangunan di Indonesia akan tinggi seperti 5 tahun kedepan. Tentu yang tahu hanya bandar-bandar besar yang ikut serta di dunia politik.

Kalau konsumsi ayam (Japfa) dan konsumsi teh dan susu (Ultrajaya) menurut saya akan terus meningkat meskipun sedikit demi sedikit.

Bisa dilihat PER JPFA masih di range angka 7 – 14 an jadi menurut saya sanggat oke digabungkan dengan fundamentalnya.

4. Perbandingan Harga di Sektor yang sama

Jika di satu sektor harganya hampir sama semua maka akan sedikit sulit untuk memilih, tetapi jika ada perbedaan yang cukup signifikan maka justru lebih mudah dalam membandingkan

Sebagai contoh di sektor kontruksi:

Wika 2300, Waskita 2200, Adhi karya 1600, harganya hampir sama semua

Saham di sektor ayam

Japfa 1500, Charoen Pokphand 5000, maka dari situ asumsi sederhana harga saham Japfa seharusnya bisa di atas 3000 4000 an.

Tapi Malindo Feedmill di harga 1200 an, sangat jelas dia kalah di sektornya karane laporan keungan di tahun 2014-2015 labanya minus.

Bagaimana dengan Ultrajaya?

Perusahaan ini tidak terlalu ramai di bursa saham, hanya saja prediksi saya asalkan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia semakin baik, banyak dibuka ritel dan desa-desa semakin maju.

Karena produknya minuman sehat, teh kotak dan susu, saya yakin akan stabil dan naik dengan perlahan.

Kabar baiknya Ultrajaya juga dinilai sebagai perushaan yang sehat tidak punya banyak hutang dan labanya selalu meningkat.

Oh iya, ULTJ juga pelopor bungkus kertas yang ramah lingkungan dimana banyak komnpetitor yang menggunakan botol plastik, jika kesadaran masyarakat terhadap lingkungan meningkat, tentu saja minuman yang akan dipilih saat membuka kulkas adalah Ultrajaya.

Meskipun Jangka Panjang, harus ada fase Taking Profit dimana segera dijual jika sudah di harga tinggi, dan beli lagi di harga yang rendah.

Ini sudah saya lakukan di saham Mayora dan Adaro Energy  untuk  mengkoleksi Japfa yang kebetulan harga sedang turun rendah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s