Sharing Pengalaman Muncak Gunung Selalu Sukses Sampai Summit

muncak

Saya mau berbagi pengalaman hobi muncak Gunung, tapi ini bukan buat pamer apa gimana yaa 🙂 . Sekedar ingin cerita saja, jika setuju boleh dicoba, kalau tidak setuju juga gpp. Saya juga dulunya pemula dan inipun mendapat pelajaran para senior. Meskipun dulu ikut siswa pecinta alam dan mahasiswa pecinta alam, tapi rasanya aku ga bisa sehebat teman-teman mapala lainnya. Sekarang juga masih newbie dan sudah jarang kegiatan mendaki gunung seperti itu lagi. Ini cerita tentang muncak gunung dan bagaimana bisa selalu sampai puncak/summit.

Gunung: Lawu 2x, Merbabu 3x, Sindoro 1, Merapi 2x = 8x (Alhamdulillah semua sukses sampai summit)

Saya ga banyak membahas tentang hal-hal prinsip mendaki gunung seperti persiapan alat lengkap, fisik dan mental yang harusnya sudah banyak diketahui. Ini beberapa hal pengalaman yang mungkin bisa bikin teman-teman juga sukses dalam perjalanan hingga ke puncak.
Wajib: peralatan lengkap (standar bisa survive), fisik dan mental


Mensiasati bekal makanan

Gaya saya ini kadang banyak ga disukai beberapa jenis pendaki , it’s okey setiap orang beda-beda. Hanya saja caraku ini membuat tas lebih enteng nantinya saat diperjalanan. Intinya tidak terlalu butuh makanan berat (beras, lauk dsb) saat muncak, coklat, keju, roti dan air sudah sangat cukup. Kecuali ingin acara masak-masak enak saat ngecamp, biasanya memang itu salah satu asiknya kegiatan muncah. Kalo saya pribadi seenak-enak masakan di puncak, ga seenak masakan ibu di rumah.

Bawa minuman yang enak, jangan cuma kopi dan susu dua hal itu butuh air panas. Iya di gunung yang dingin memang enak minum minuman hangat, tapi saat jalan tetap pengen minuman segar. Aku mah suka bawa nutrisari, tebs,  kratingdeang, eits untuk minuman berenergi jangan berlebihan. Rahasia nih, minum kratingdeang bikin energiku 3 kali lipat dan bikin ga ngantuk, tapi jangan coba-coba kalau ga berani 😀

Pengalaman nih, di sore hari gw pas turun dari pendakian dan istirahat di pos yang disitu ada banyak orang istirahat mau daki ada kalau 30 orang disitu (musim pendakian). Gw keluarin Tebs, dan gw buka “cussss suara sodanya” banyak orang-orang lihatin gw, batinku “pengen yaaa kalian” pasti mereka ga kepikiran bawa tebs wuhahahaha 😀

Masalah makanan sering beda-beda gaya setiap orang, kalau saya lebih suka jenis makanan instan yang ringan tapi berenergi tinggi. Untuk makanan hangat saya lebih suka pop mie, karena sangat simple dan cepat ga perlu bawa piring dan sendok.


Pikirkan kemungkinan terburuk tersesat dan kita harus survival

Selalu ada kemungkinan buruk di dunia ini bahkan saat kita tidur nyaman di kasur sekalipun, apalagi di gunung dan hutan. Makanan menjadi hal vital saat survival, itu dia saya lebih suka membawa snak kecil kecil yang efektif, katakanlah satu bengbeng itu itu sudah bisa buat bertahan 2 hari. Gimana kalau bawa 5 masih sangat enteng bukan?

So! masalah makanan saya fokus makanan kecil high energi dan persediaan air lebih cukup, saya pribadi nasi lauk dsb ga terlalu penting cukup pop mie.


Kapan waktu yang baik untuk  jalan mendaki?

Ini pelajaran yang dikatakan senior siswa pecinta alam gw saat SMA. Muncak di malam hari lebih banyak keuntungan daripada siang dan saya selalu menolak jika mendaki di siang hari, mengapa

> Udara dingin malam bisa dinetralisir saat kita berjalan, bahkan dingin tidak akan terasa

> Air minum jelas lebih awet, siang hari yang terik akan lebih banyak menyebabkan haus

> Mendaki di malam hari pandangan fokus didepan maya, ketika siang hari berjalan pasti seringkali pandangan mata ke arah atas,  itu secara tidak sadar memberi sugesti “jalan yang naik, tinggi dan masih jauh” sehingga merasa lebih lelah.

>Istirahat tidak bisa terlalu lama, biasanya istirahat lebih dari 10 menit pasti akan terasa kedinginan yang memaksa kita lebih baik jalan lagi hingga bisa istirahat mendirikan tenda.

>Pemandangan bulan dan bintang saat cerah bisa sangat indah dinikmati saat istirahat di sela-sela pendakian, sepi dan dinginnya malam yang indah disitu aku sering merasakan dekat dengan Tuhan Pencipta alam semesta.

 

Selalu peduli dengan teman

Jika kita peduli dan bahkan bisa membantu teman-teman di saat perjalanan, secara tidak sadar membuat tubuh dan jiwa lebih kuat. Fisik yang kuat belum tentu mempunyai jiwa yang kuat. Fisik bisa dilatih dan diberi asupan makanan supaya kuat. Sedangkan jiwa tidak bisa diberi energi dari makanan, tetapi jiwa bisa mendapat energi dari hal-hal kebaikan, kepedulian, dan semangat.


Berusaha selalu beribadah dan berdo’a

Saat keadaan mendaki seringkali membuat malas untuk melaksanakan sholat, keterbatasan tempat, kotor, sulitnya wudhu dsb. Tapi aku selalu ingat jika mati disini aku hanya akan jadi orang yang mati dalam keadaan sombong, orang yang sombong bahwa aku mau menaklukkan gunung.

Tidak bisa munafik perasaan bangga dan pamer saat bisa mendaki sampai ke puncak, tapi semoga Allah memaafkan rasa sombongku di alam kekuasaan-Nya ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s